Nov

27

Mengenali Stress pada Anak Bunda

stress pada anakStress pada anak?  Apa iya sih anak-anak bisa mengalaminya? Baru-baru ini di media sosial beredar cerita yang mengisahkan seorang anak perempuan usia 6 tahun harus menjalani perawatan di sebuah rumah sakit jiwa di Jakarta Timur akibat stress.  Diduga stress pada anak tersebut akibat terlalu banyak les seusai jam sekolah. Terlepas cerita tersebut benar atau hoax, Bunda tetap harus waspada.  Sebagai Bunda, tidak hanya tumbuh kembang fisik dan stimulasi bakat ananda saja yang menjadi perhatian, tetapi bagaimana tumbuh kembangnya dalam hal kejiwaannya.

Kalau dipikir-pikir, kita sebagai orang dewasa melihat masa kanak-kanak adalah masa bahagia dan masa tidak memiliki beban.  Anak-anak tidak harus memiliki mata pencahariaan,  anak-anak tidak punya tagihan-tagihan yang harus dibayar dan tidak punya tanggung jawab untuk menutupi biaya hidup tiap bulan.  Jadi sebenarnya apa alasannya stress pada anak bisa terjadi?  Ternyata banyak peluang anak bisa stress bahkan pada anak pada usia yang sangat belia.  Mereka bisa mengalami rasa cemas dan merasa stress dengan tingkat yang berbeda-beda.

 

 

 

 

 

Sumber Stress pada Anak :

  • Harapan versus Kapasitas : Seorang anak bisa mempunyai harapan – harapan yang ingin dicapai.  Harapan-harapan ini bisa dari diri anak sendiri atau dari luar.  Dari luar bisa harapan dari keluarga, orangtua, teman-teman, sekolah dan juga pekerjaan jika anak tersebut sudah memiliki kegiatan yang menghasilkan uang.  Stress timbul akibat perbedaan dari hal-hal yang harus dilakukan dengan kapasitas untuk melakukan hal-hal tersebut.
  • Lingkungan Sekolah dan Sosial : Jadi stress bisa menimpa siapa saja yang merasakan kewalahan, bahkan pada anak-anak. Pada usia anak-anak pra sekolah, kecemasan akibat perpisahan dengan orang tua saat jam sekolah dapat menimbulkan kecemasan.  Dengan bertambahnya usia, anak-anak bisa mengalami tekanan akibat beban akademis maupun tekanan sosial, apalagi jika mengalami masalah untuk dapat  memenuhi kriteria di luar kemampuan anak tersebut.
  • Jadwal Padat : Banyak anak-anak yang terlalu sibuk sehingga tidak memilki waktu lagi untuk bermain selayaknya anak-anak yang masih dalam usia bermain ataupun untuk sekedar bersantai sepulang sekolah.  Anak-anak yang mengeluh tentang aktivitasnya ataupun menolak berangkat menuju suatu aktivitas bisa menjadi pertanda jadwal aktivitasnya terlalu padat.  Ajak anak untuk bicara tentang apa yang dirasakannya terhadap aktivitas-aktivitasnya sepulang sekolah.  Jika mereka mengeluh, ajak anak-anak untuk membuat daftar plus dan minusnya jika suatu kegiatan dihentikan.  Jika aktivitas tersebut tidak mungkin dihentikan, bantulah anak untuk mengelola waktu dan rasa tanggung jawab untuk menurunkan rasa cemasnya.  Buat kesepakatan ada kegiatan yang diperlukan untuk menunjang keperluan akademis ataupun meningkatkan kemampuan berbahasa dan ada juga kegiatan yang untuk memenuhi minatnya misal di bidang seni atau olahraga. Sempatkan di akhir minggu, anak-anak melakukan permainan ataupun kegiataan outdoor.
  • Tak Sengaja Mendengar Permasalahan Orang Tua : Stress pada anak bisa bertambah tidak hanya akibat dari hal-hal yang terjadi pada lingkup hidup anak itu sendiri.  Apakah Bunda perhatikan anak-anak bisa tidak sengaja mendengar keluhan Bunda tentang permasalahan di kantor?  Atau kekhawatiran Bunda akan penyakit yang diderita kerabat atau adu argumentasi Bunda dan Ayah mengenai masalah keuangan? Orang tua harus waspada saat membicarakan hal-hal serius.  Perhatikan apakah anak-anak bisa mendengar atau lebih baik pembicaraan dilakukan saat anak-anak tidur atau sedang melakukan kegiatan tanpa keterlibatan orang tua.  Karena anak-anak bisa merasakan kecemasan yang melanda orang tua mereka dan anak-anak menjadi ikut cemas.
  • Pemberitaan di Media : Pemberitaan di media juga dapat menimbulkan stress pada anak.  Anak-anak yang menyaksikan pemberitaan di TV dengan gambar-gambar tentang bencana atau kejadian-kejadian negatif lainnya akan merasa khawatir akan keamanan diri mereka maupun orang-orang yang mereka sayangi.  Cari tahu dulu pemberitaan mana yang secara tidak sengaja mereka lihat atau dengar dan ajak bicara mereka untuk memberikan pengertian dan rasa aman.  Di sini perlunya pembatasan jam menonton TV dan pendampingan anak selama mereka menonton TV.
  • Perubahan dalam Keluarga : Juga perlu diwaspadai faktor-faktor seperti masa-masa sakit dari anggota keluarga, orang yang disayangi meninggal dunia atau perceraian orang tua.  Jika ada faktor tersebut yang harus dihadapi anak-anak, maka peluang stress menjadi lebih besar.  Bahkan pada perceraian yang damai, tetap bisa menjadi pengalaman yang sulit untuk anak-anak karena adanya friksi pada rasa aman akibat banyaknya perubahan-perubahan pada keluarga setelah perceraian orang tua.  Untuk pasangan orang tua yang bercerai, jangan memojokkan anak-anak untuk memilih Bunda atau Ayah ataupun salah satu orang tua menjelek-jelekkan ex pasangannya di depan anak-anak.
  • Sensitifitas Perasaan Anak-anak : Ada hal-hal untuk orang dewasa tidaklah penting untuk dipikirkan berkepanjangan tetapi hal tersebut sensitif untuk perasaan anak-anak.  Tingkatkan kepekaan akan perubahan perasaan anak-anak dan cari tahu penyebabnya. Komunikasikan perasaan yang mengganggu  mereka dan jangan pernah mengabaikan perasaan anak-anak.

Untuk mencegah stress pada anak, kepekaan Bunda dan ayah akan tumbuh kembang kejiwaan anak-anak harus terus diasah.  Adanya pilihan aktivitas yang beragam, tingkat persaingan yang tinggi ataupun keterbukaan informasi di sekeliling mereka bisa menjadi pengaruh positif tapi bisa juga menjadi sumber tekanan dalam kehidupan mereka.

 Sumber Inspirasi Artikel : http://kidshealth.org

Leave a Reply